PELALAWAN (Suarapelalawan) – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Institut Teknologi Perkebunan Pelalawan Indonesia (ITP2I) saat ini tengah mengalami kekosongan kepemimpinan. Hal tersebut terjadi setelah masa jabatan Presiden Mahasiswa (Presma) BEM ITP2I periode 2025 resmi berakhir sesuai dengan Surat Keputusan (SK) pelantikan yang dilaksanakan pada 6 Maret 2025 lalu.
Berdasarkan ketentuan masa jabatan yang berlaku, kepengurusan BEM ITP2I tersebut telah berakhir pada 6 Maret 2026. Hingga hari ini, telah memasuki hari ketiga sejak berakhirnya masa jabatan tersebut, namun belum ada Presiden Mahasiswa BEM ITP2I yang baru dan sah secara organisatoris.
Kondisi ini menimbulkan kekosongan kepemimpinan di tingkat eksekutif mahasiswa di lingkungan kampus. Padahal, BEM merupakan lembaga strategis yang berperan sebagai representasi mahasiswa serta penggerak berbagai kegiatan kemahasiswaan di kampus.
Sebagai satu-satunya kampus perkebunan di Indonesia, Institut Teknologi Perkebunan Pelalawan Indonesia (ITP2I) diharapkan dapat terus menjaga stabilitas organisasi kemahasiswaan serta memastikan keberlanjutan roda kepemimpinan mahasiswa melalui mekanisme Musyawarah Besar (MUBES) dan Pemilihan Raya (PEMIRA).
Sejumlah pihak di lingkungan mahasiswa berharap agar pihak terkait, khususnya Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) sebagai lembaga legislatif mahasiswa, dapat segera mengambil langkah konkret untuk membentuk panitia pelaksana MUBES dan PEMIRA. Langkah ini dinilai penting guna memastikan proses regenerasi kepemimpinan mahasiswa dapat berjalan sesuai dengan konstitusi organisasi.
Dengan segera dilaksanakannya tahapan MUBES dan PEMIRA, diharapkan BEM ITP2I dapat kembali memiliki Presiden Mahasiswa yang sah dan mampu melanjutkan perjuangan serta pengabdian kepada mahasiswa dan kampus.
Kondisi kekosongan kepemimpinan ini juga menjadi pengingat pentingnya komitmen bersama seluruh elemen mahasiswa untuk menjaga keberlangsungan organisasi serta memperkuat tata kelola kelembagaan mahasiswa di ITP2I.